Mbah Bohr

15:34


Cerita berikut berkisar sekitar salah satu pertanyaan dalam
ujian Fisika di Universitas Copenhagen:
"Jelaskan bagaimana menetapkan tinggi suatu bangunan pencakar
langit dengan menggunakan sebuah barometer."

Salah seorang mahasiswa menjawab: "Ikatlah suatu tali panjang
pada leher
barometer, lalu turunkan barometer dari atap pencakar langit
sampai
menyentuh tanah. Panjang tali ditambah panjang barometer akan
sama
dengan tinggi pencakar langit."  

Jawaban yang luar biasa orisinilnya ini membuat pemeriksa
ujiannya
begitu geram sehingga akibatnya sang mahasiswa langsung tidak
diluluskan. Si mahasiswa naik banding atas dasar bahwa
jawabannya tidak
bisa disangka kebenarannya, sehingga universitas menunjuk
seorang
arbiter yang independen untuk memutuskan kasusnya. Arbiter
menyatakan
bahwa jawabannya memang betul2 benar, hanya saja tidak
memperlihatkan
secuil pun pengetahuan mengenai ilmu fisika. Untuk mengatasi
permasalahannya, disepakati bahwa sang mahasiswa akan
dipanggil, serta
akan diberikan waktu enam menit untuk memberikan jawaban verbal
yang
menunjukkan paling tidak sedikit latar belakang pengetahuannya
mengenai
prinsip2 dasar ilmu fisika.

Selama lima menit, si mahasiswa duduk tepekur, sampai dahinya
terlihat
berkerut.  Arbiter mengingatkan bahwa waktu sudah sangat
terbatas, yang
mana sang mahasiswa menjawab bahwa ia sudah memiliki berbagai
jawaban
yang sangat relevan, tetapi tidak bisa memutuskan yang mana
yang akan
dipakai.

Saat diingatkan hakim untuk ber-buru2, sang mahasiswa menjawab
sbb:  
"Pertama-tama, ambillah barometer dan bawalah sampai ke atap
pencakar
langit. Lemparkan melewati pinggir atap, dan ukurlah waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai tanah. Ketinggian bangunan bisa
dihitung dari
rumus H = 0.5g x t pangkat 2. Tetapi ya sayang barometernya."

"Atau, bila matahari sedang bersinar, anda bisa mengukur tinggi
barometer, tegakkan diatas tanah, dan ukurlah panjang
bayangannya.
Setelah itu, ukurlah panjang bayangan pencakar langit, sehingga
hanya
perlu perhitungan aritmatika proporsional secara sederhana untuk
menetapkan ketinggian pencakar langitnya."

"Tapi kalau anda betul2 ingin jawaban ilmiah, anda bisa
mengikat seutas
tali pendek pada barometer dan menggoyangkannya seolah
pendulum, pertama
di permukaan tanah kemudian saat diatas pencakar langit.
Ketinggian
pencakar langit bisa dihitung atas dasar perbedaan kekuatan
gravitasi T
= 2 pi akar dari (l/g)."  

"Atau kalau pencakar langitnya memiliki tangga darurat yang
eksternal,
akan mudah sekali untuk menaiki tangga, lalu menggunakan
panjangnya
barometer sebagai satuan ukuran pada dinding bangunan, sehingga
tinggi
pencakar langit = penjumlahan seluruh satuan barometernya pada
dinding
pencakarlangit."

"Bila anda hanya ingin membosankan dan bersikap ortodoks,
tentunya anda
akan menggunakan barometer untuk mengukur tekanan udara pada
atap
pencakar langit dan di permukaan tanah, lalu mengkonversikan
perbedaannya dari milibar ke satuan panjang untuk memperoleh
ketinggian
bangunan."

"Tetapi karena kita senantiasa ditekankan agar menggunakan
kebebasan
berpikir dan menerapkan metoda-metoda ilmiah, tentunya cara
paling tepat
adalah mengetuk pintu pengelola gedung dan mengatakan: 'Bila
anda
menginginkan barometer baru yang cantik, saya akan
memberikannya pada
anda jika anda memberitahukan ketinggian pencakar langit ini."

Siapakah mahasiswa tersebut?
Mahasiswa tersebut adalah Niels Bohr, satu-satunya warga
Denmark yang memenangkan hadiah Nobel untuk Fisika.

How sometimes we just judge somebody by what she/he say,
not by the real thought inside of her/him.....

Wajah culun berotak encer banyak...sebagaimana
gaya kota berotak bantat...PASARAN dan BANYAK..!!!


You Might Also Like

9 comments

Subscribe