Makalah Presentasi Pend.Agama

07:58

Dakwah dan Perubahan Sosial

Dakwah
Definisi dakwah
Materi dakwah

1. Definisi Dakwah

Dakwah menurut bahasa atau secara etimologis dapat diartikan mengajak, menyeru, dan memanggil. Sedangkan, bila diartikan dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi dakwah dapat diartikan sebagai berikut :

“Mendorong (memotivasi) untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk (Allah), menyuruh orang mengerjakan kebaikan, melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat”. (Syaikh Ali Mahfudh, Hidayah al-Mursyidin).

Dakwah berasal dari bahasa arab yang berarti mengundang, mengajak dan mendorong. Konotasi yang lazim adalah mengajak dan mendorong sasaran untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kejelekan atau "amar ma'ruf nahi munkar". Dakwah berarti juga mengajak sasaran menuju jalan Allah, yakni agama Islam.

Ilmu manajemen menyebutkan bahwa usaha dakwah dalam memberikan motivasi kepada orang lain harus melihat serta memperhatikan kebutuhan kelompok sasaran. Hal ini menjadi penting karena muara dakwah itu sendiri tidak lain adalah tercapainya kesejahteraan dunia dan akhirat. Sehingga, dakwah dalam pengertian ini adalah memberdayakan masyarakat atau rakyat.

Dari definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dakwah pada dasarnya merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan disengaja oleh pelaku dakwah (da’i) untuk memberikan motivasi kepada individu atau kelompok (sasaran dakwah) untuk mencapai tujuan di atas yaitu, bahagia di dunia dan akhirat ( Sa'adatuddarain).

A. Materi dakwah

Jika bicara tentang dakwah, kita ingat kembali apa tujuan dakwah, karena pada dasarnya apa yang terdapat dalam materi dakwah bergantung pada tujuan dakwah yang yang ingin dicapai.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Quran, bahwa: “Tujuan umum dakwah adalah mengajak ummat manusia ( meliputi orang mukmin maupun kafir atau musyrik ) kepada jalan yang benar yang diridhai  Allah SWT, agar dapat hidup bahagia dan sejahtera didunia maupun diakhirat”.[1]

Apa yang disampaikan  seorang da’i dalam proses dakwah (nilai-nilai dan ajaran-ajaran islam) untuk mengajak ummat manusia kepada jalan yang diridhai Allah, serta mengubah perilaku mad’u agar mau menerima ajaran-ajaran islam serta memanifestasikannya, agar mendapat kebaikan dunia akhirat, itulah yang disebut materi dakwah.

Dalam garis besarnya, sebenarnya telah jelas, bahwa materi dakwah adalah seluruh anjuran islam secara tidak dipotong potong. Ajaran islam telah tertuang dalam : alqurannul karim dan sunnatur rasul Muhammad saw, sedang pengembangannya kemudian akan mencakup seluruh kultur islam yang murni yang bersumber dari kedua sumber pokok ajaran islam itu.

Materi yang demikian luas sudah tentu memerlukan pemilihan yang cermat, disamping perlunya diperhatikan situasi dan kondisi kemasyarakatan yang ada. Apabila kehidupan manusia ini akan selalu dihadapkan dengan kepentingan, maka dalam hal ini manusia tidak lain akan dipaksa untuk mengadakan pilihan-pilihan tindakannya. Bahkan kemudian manusia membuat prioritas-prioritas karena dari sekian banyak perbaikan yang telah dipilihnya itu, tidak semuanya dapat dikerjakan sekaligus, namun harus satu demi satu atau menurut kepentingannya yang paling utama dan yang dapat dikemudiankan. Untuk ini ajaran islam cukup luas memberikan bahannya dari sumber utama tadi.

seperti yang sudah dijabarkan diatas dalam hal ini materi dakwah menurut tarmizi taher materi (maddah) dakwah adalah masalah isi pesan atau materi yang disampaikan da’I pada mad’u, pada dasarnya bersumber pada Al-Quran dan Hadits sebagai sumber yang meliputi akidah, syariah, dan ahlak. Hal ini yang perlu disadari bahwa ajaran ajaran yang diajarakan itu bukanlah semata-mata berkaitan dengan eksistensi dan wujud Allah SWT, namun bagaimana menumbuhkan kesadaranmendalam agar mampu memanifestasikan akidah, syariah dan ahlak dalam ucapan, pikiran dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Secara global, materi dakwah dapat diklasifikasikan menjadi tiga hal, yang pada dasarnya ketiganya bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Tiga hal itu adalah :

Aqidah
Dalam islam, permasalahan aqidah yaitu masalah-masalah yang mencakup keyakinan yang erat hubungannya dengan rukun iman. Dalam pembahasanya, bukan saja tertuju pada hal-hal yang wajib diimani, akan tetapi materi dakwahnya juga menyangkut masalah-masalah yang menjadi lawannya. Seperti syirik, ingkar terhadap keberadaan tuhan, dll

Syar’iyah
Dalam islam, permasalahan syar’iyah erat kaitannya dengan perbuatan nyata dalam mentaati semua peraturan/hokum Allah untuk mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya serta mengatur pergaulan hidup antar sesame manusia.

Permasalahan yang berhubungan dengan masalah syar’iyah bukan saja terbatas pada masaalah ibadah kepada Allah, namun permasalahannya juga mencakup pada masalah yang berkenaan dengan pergaulan hidup antar sesame manusia seperti masalah hokum jual-beli, berumahtangga, warisan, dan lainnya, begitu juga dengan segala bentuk larangan Allah, seperti mabuk, mencuri, berzina, dan sebagainya. Hal itu juga termasuk masalah yang menjadi materi dakwah.

Akhlak
Sebagai materi dakwah, akhlak lebih tepat dikatakan pelengkap bagi keimanan dan keislaman seseorang. Namun bukan berarti masalah akhlak tidak penting, karena bagaimana pun juga, iman dan islam seseorang tidak akan sempurna tanpa dibarengi dengan perwujudan akhlakul karimah.

Rasullulah pun pernah bersabda :

“Aku diutus oleh Allah SWT didunia ini hanyalah untuk menyempurnakan Akhlak”.

Dalam buku yang berjudul Dakwah Aktual, mengatakan: Sirah Nabawiyah mengajarkan kepada kita, bahwa materi pertama yang menjadi landasan utama ajaran islam, yang disampaikan Rasullulah SAW kepada ummat manusia adalah masalah yang berkaitan dengan pembinaan akidah salimah, keimanan yang benar, masalah al-insan, tujuan program, status, dan tugas hidup manusia didunia, dan tujuan akhir yang dicapainya, al-musawah, persamaan manusia dihadapan Allah SWT, dan al-adalah, keadilan yang harus ditegakan oleh seluruh manusia dalam menata kehidupanya.[2]

Hal penting yang harus disadari yaitu, semua ajaran yang disampaikan itu (materi dakwah), bukanlah semata-mata berkaitan dengan eksistensi dan wujud Allah SWT, akan tetapi bagaimana menumbuhkan kesadaran mendalam, agar mampu mewujudkan atau memanifestasikan aqidah, syar’iyah, dan akhlak dalam ucapan, pikiran, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari

Sumber-sumber Materi Dakwah

Materi dakwah yang telah dirinci sebelumnya, pada dasarnya bersumber kepada:

Al-Quran dan Hadits
Al-Quran dan Hadits merupakan pedoman dan sumber hukum serta sumber utama ajaran-ajaran islam bagi ummat islam. Oleh karena, materi dakwah yang pada intinya menyampaikan ajaran-ajaran islam tidak mungkin terlepas dari dua sumber tersebut, jika seluruh aktivitas dakwah tidak berpegang teguh pada Al-Quran dan Hadits, maka hal itu akan menjadi sia-sia dan bahkan dilarang oleh islam

Opini Ulama
Islam selalu menganjurkan ummatnya untuk terus mencari dan menggali (pengetahuan ) dengan cara berpikir dan berijtihad untuk menemukan hokum-hukum sebagai tafsiran serta takwil dari Al-Quran dan Hadits.

Sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama, dari hasil pemikiran dan penelitian dari ulama itulah dapat pula dijadikan sebagai sumber baru setelah Al-Quran dan Hadits artinya, hal baru yang tidak bertentang dengan Al-Quran dan Hadits dapat juga dijadikan sebagai sumber materi dakwah
Unsur Dakwah

Kegiatan dakwah islamiah itu sendiri tidak dapat lepas dari lima unsur yang harus berjalan serasi dan seimbang. Karena pada dasarnya kegiatan dakwah merupakan proses interaksi antara pelaku dakwah (da’i) dan sasaran dakwah (masyarakat) dengan strata sosialnya yang berkembang. Antara sasaran dakwah dan si pelaku dakwah keduanya saling mempengaruhi, di mana mereka sama menuntut porsi materi, media, dan metode tertentu.

Strategi dakwah akan berhasil jika kelima unsur tersebut berjalan dengan seimbang. Ini berarti, kegiatan dakwah bukan bukan sekedar memberikan pengajian di atas mimbar di hadapan masyarakat yang luas serta heterogen. Namun lebih dari itu, dakwah menuntut tumbuhnya suatu kesadaran bagi masyarakat yang mendengarkan dakwah tersebut agar pada gilirannya mampu melakukan perubahan positif dari pengamalan dan wawasan agamanya.

K
ita tidak bisa mengukur keberhasilan sebuah kegiatan dakwah dari banyaknya jumlah pengunjung yang melimpah pada suatu forum pengajian dan hebatnya mubalig yang lucu, dan kocak. Sementara biaya yang keluar relatif banyak tanpa diimbangi dengan evaluasi dari massa pengunjungnya.


C.Problematika Masyarakat dan Dakwah Islam

Seperti yang telah kita ketahui, pada intinya, masyarakat merupakan kesatuan yang terdiri dari beberapa individu, yang hidup dan tinggal di suatu wilayah atau daerah tertentu dan memiliki tujuan bersama.

Tidak dapat dipungkiri, berbagai macam individu didalamnya, menjadikan berbagai permasalahan dan problematika bisa saja terjadi. Terlebih jika dalam masyarakat, terbagi kedalam beberapa bentuk, namun hal ini tidak akan dikupas tuntas. Pembahasan akan lebih menitik beratkan pada problematika masyarakat yang terjadi saat ini.

Problematika masyarakat

Di sini yang dimaksud dengan problematika masyarakat adalah kesulitan-kesulitan atau permasalahan yang berkembang dalam masyarakat itu sendiri yang di mana dikarenakan perkembangan zaman yang semakin maju dan lebih kritisnya para mad’u di masyarakat pada zaman sekarang. Hal-hal yang muncul adalah seperti: masalah ide pembaharuan, masalah moral dan masalah tentang perkembangan teknologi yang semakin pesat pada saat ini.

analisis


Kesimpulan I

Dakwah pada intinya adalah “amar ma’ruf nahi munkar” mengajak, mendorong untuk menuju sesuatu yang baik dan mengundang, mengajak untuk menjauh dari segala sesuatu yang buruk/jelek. Dakwah mempunyai banyak unsur didalamnya seperti: a. da'i b. mad'uw c. dakwah d. materi dakwah e.cara-cara penyampaiannya.

Pada umumnya materi dakwah selalu identik degan ilmu dan ajaran Agama Islam. Hal ini tercemin dengan berkembangnya budaya dakwah mimbar dengan massa yang banyak dengan riuhnya tepuk tangan audiens. Fenomena ini juga diperlukan dalam dakwah dengan catatan kefektifan dari dakwah itu ada.

Efektifitas dakwah mempunyai dua strategi yang saling mempengaruhi keberhasilannya. Pertama, peningkatan kualitas keberagamaan. Kedua, dengan mendorong terjadinya perubahan sosial. Dengan adanya dorongan menuju perubahaan sosial baik yang bersifat materi dan spiritual akan mencapai keingian yang diingini yaitu Sa’adatuddarain.

Dakwah dan perubahan sosial
Dakwah merupakan salah satu cara melakukan perubahan sosial. Perilaku masyarakat yang melanggar norma dan etika yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat harus “diluruskan” agar dampak buruknya tidak menyebar dan menjadi “penyakit” kolektif. Masyarakat harus dibimbing dan diarahkan kepada hal-hal positif yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain. Realitas sosial memang selalu membutuhkan tuntunan spiritual agar sejalan dengan petunjuk Tuhan.
Kaum Muslim, sejak Nabi Muhammad diutus untuk menyampaikan risalah Islam hingga zaman modern ini, telah dijadikan sebagai umat terbaik karena peran mereka dalam perubahan sosial. “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Alh Kitab beriman, tentulah lebih baik bagi mereka: di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik,” (QS Ali Imran [3]: 110).
Ilmu Sosial Profetik

Ayat 110 surat Ali Imran di atas, menurut Kuntowijoyo memiliki tiga dimensi nilai, yaitu: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Humanisasi berarti memanusiakan manusia. Hal ini seiring dengan dehumanisasi karena laju masyarakat industrial, di mana masyarakat berada di tengah-tengah mesin-mesin politik dan mesin-mesin pasar. Liberasi bertujuan untuk membebaskan bangsa dari kekejaman kemiskinan, keangkuhan teknologi, dan pemerasan. Sedangkan transendensi bertujuan menambahkan dimensi transendental dalam kebudayaan.

Transformasi Sosial
Menurut Sayyid Qutb, umat Islam harus mengerti bahwa mereka itu dilahirkan untuk maju ke garis depan dan memegang kendali kepemimpinan, karena mereka adalah umat yang terbaik. Allah menghendaki supaya kepemimpinan di muka bumi ini untuk kebaikan, bukan untuk keburukan. Karena itu, kepemimpinan tidak boleh jatuh ke tangan umat lain dari kalangan umat dan bangsa jahiliah. Kepemimpinan ini hanya layak diberikan kepada umat yang layak untuknya, karena karunia yang diberikan kepadanya, yaitu akidah, pandangan, peraturan, akhlak, pengetahuan, dan ilmu yang benar. Inilah kewajiban mereka sebagai konsekuensi kedudukan dan tujuan keberadaannya, yaitu kewajiban untuk berada di garis depan dan memegang pusat kendali kepemimpinan.
Menempati posisi khairu ummah (sebaik-baik umat) bukanlah karena berbaik-baikan, pilih kasih, secara kebetulan, dan serampangan. Posisi ini adalah karena tindakan positifnya untuk memelihara kehidupan manusia dari kemunkaaran dan menegakkannya di atas yang makruf disertai dengan iman untuk menentukan batas-batas mana yang makruf dan mana yang munkar itu. Kegiatan itu harus disertai dengan iman kepada Allah, untuk menjadi timbangan terhadap tata nilai dan untuk mengetahui dengan benar mengenai yang makruf dan yang munkar. (Tafsir fi Zhilalil Qur’an, II: 128).
Amar makruf nahi munkar merupakan proyek jangka panjang kaum Muslim, karena kehidupan dunia ini tak akan bebas dari kemungkaran serta manusia pun tak akan sempurna melakukan kebajikan. Selama dunia ini berputar, maka selama itu pula kemungkaran berlangsung dan manusia tak akan pernah sempurna berbuat kebaikan. Diutusnya para nabi dan rasul yang misi dakwahnya mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran membuktikan bahwa kemunkaran akan terus menyelimuti perilaku masyarakat dan baiknya perilaku masyarakat senantiasa memerlukan peringatan dan pembinaan.
Para dai harus menyadari bahwa dakwah memerlukan kesabaran. Mereka tak perlu terlalu berambisi agar masyarakat semua Islam dan baik beragamanya. Mereka hanya bertugas untuk menyampaikan risalah Islam yang mereka yakini kebenarannya. Dakwah harus digunakan sebagai cara melakukan transformasi sosial (perubahan sosial). Oleh karena itu, para dai harus memiliki komitmen dan semangat yang terus bergelora dalam menyuarakan kebenaran. Tanpa harus memaksa orang untuk ikut ajakannya, seorang dai dituntut menjaga kesucian hatinya.
Dalam aktivitas perubahan sosial itu, memang tidak semua Audien atau sasaran dakwah bisa menerima dengan lapang dada. Kelompok yang menentang atau berusaha menghambat dakwah adalah mereka yang benci terhadap Islam atau yang masih “keras hatinya”, terutama dari kalangan konglomerat. Dalam Al-Quran Allah Swt. berfirman, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur - hancurnya,” (QS Al-Isra [17]: 16).
“Orang-orang yang hidup mewah” ini bisa dari kalangan pejabat negara atau para elit swasta. Mungkin dalam konteks Indonesia, yang dimaksud adalah pejabat korup dan konglomerat hitam yang dengan sengaja memorak-porandakan sendi-sendi kehidupan masyarakat demi meraup keuntungan pribadi dan kroninya. Perilaku elit ini bukan hanya menjadi tantangan para dai yang hanya mengandalkan suara moral, tetapi juga aparat penegak hukum.
Mereka inilah tantangan paling berat yang dihadapi para dai dalam menjalankan misinya. Menghadapi kelompok ini, para dai dituntut untuk siap berkorban, baik jiwa, raga, maupun harta dengan sampainya ajaran Islam ke tengah-tengah masyarakat. Selain itu, diperlukan figur dai yang mempunyai semangat jihad tinggi; mereka siap menghadapi segala resiko di medan perjuangan serta konsisten menyampaikan kebenaran.
Dakwah Humanis 
Jika kita mengacu pada rumusan ilmu sosial profetik Kuntowijoyo, tampaknya misi dakwah Islam—dengan segala tantangan yang dihadapinya—bertujuan untuk “memulihkan sisi-sisi dasar manusia yang paling hakiki”. Artinya, perilaku-perilaku manusia yang menyimpang dari aturan-aturan Islam bukan hanya “menodai” dirinya, tetapi juga akan mengganggu hak-hak asasi orang lain. Penegasan Al-Quran mengenai “orang-orang yang hidup mewah” baik dari kalangan pejabat maupun swasta, sebagai tantangan dakwah sangat logis, mengingat gerakan langkah mereka yang serakah akan merampas hak-hak yang lain.
Dengan demikian, dalam kegiatan dakwah, para dai tidak cukup hanya menyampaikan ajaran Islam di atas mimbar, tetapi mereka harus terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk memberikan bantuan dan semangat moral atas problem hidup yang mereka hadapi. Mereka juga harus berani mengatakan kebenaran terhadap para penguasa yang zalim dan pengusaha yang serakah agar kembali ke jalan yang benar. Sebab, kezaliman dan keserakahan itu akan merusakkan sendi-sendi kehidupan masyarakat, baik sekarang maupun di masa yang akan datang.
Dakwah humanis dimaksudkan sebagai kegiatan dakwah yang berorientasi pada perlindungan dan penghargaan atas hak-hak asasi manusia, dan pada saat yang sama, nilai-nilai kemanusiaan, seperti persamaan, keadilan, serta kebebasan dapat tegak. Dalam dakwah yang humanis, seorang dai tidak cukup hanya berdakwah dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan.(CMM)
C.Problematika Masyarakat dan Dakwah Islam

Seperti yang telah kita ketahui, pada intinya, masyarakat merupakan kesatuan yang terdiri dari beberapa individu, yang hidup dan tinggal di suatu wilayah atau daerah tertentu dan memiliki tujuan bersama.

Tidak dapat dipungkiri, berbagai macam individu didalamnya, menjadikan berbagai permasalahan dan problematika bisa saja terjadi. Terlebih jika dalam masyarakat, terbagi kedalam beberapa bentuk, namun hal ini tidak akan dikupas tuntas. Pembahasan akan lebih menitik beratkan pada problematika masyarakat yang terjadi saat ini.

Pada hakikatnya, dakwah islam melalui pesan yang disampaikan, merupakan aktualisasi imani yang diwujudkan dalam suatu system kegiatan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan manusia secara teratur agar cara berfikir, bersikap, dan merasa dapat dipengaruhi dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran islam dalam segala segi kehidupan.

Dakwah islam senantiasa bergelut dengan segala realitas yang mengitarinya, yaitu permasalahan maupun perubahan yang terjadi pada masyarakat.

Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, perubahan sosial di Negara Indonesia terus berlangsung. Sampai saat ini, masalah dalam masyarakat yang harus dihadapi dakwah islam semakin kompleks, mulai dari berbagai masalah sosial, keagamaan, politik, ekonomi, hingga pendidikan.

Aktualisasi sistem dakwah selalu diiringi dengan serangkaian masalah yang kompleks. Pertama, ketika dakwah islam disampaikan dalam lingkungan masyarakat yang belum islam, pesan ( ajaran-ajaran islam) oleh masyarakat setempat dinilai asing dan dianggap pendatang. Kedua, bahwa pemilikan islam sebagai hasil kegiatan dakwah berjalan secara lambat atau malah sebaliknya. Ketiga, ketika perubahan sosial - budaya semakin kompleks, dakwah islam dihadapkan dengan keharusan memberikan jawaban jelas yang menyangkut kepentingan manusia dalam berbagai aspek kehidupan.

Masyarakat sebagai mad’u, selalu mengalami dinamika perubahan yang dapat menimbulkan dampak sosial maupun fisik. Dalam hal ini, pesan dakwahlah yang mengarahkan perubahan. Mengubah struktur masyarakat dan budaya dari kezaliman menjadi bentuk keadilan, kebodohan menuju kecerdasan/kemajuan, kemiskinan ke arah kesejahteraan/kemakmuran, keterbelakangan ke arah menuju kemajuan : sejarah membuktikan, kehadiran islam, terlebih pada masa rasul, dakwah mampu menggerakkan dan mengarahkan sosial - budaya ( masyarakat) secara mendasar sesuai dengan tingkat peradaban dan masalah yang terjadi saat itu. Kenyataan perubahan sosial yang terjadi belakangan ini sangat berbeda dengan perubahan yang pernah dilakukan rasul. Saat ini, perubahan diawali oleh kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi. Penerapan ilmu dan teknologi telah menjadi penggerak perubahan yang dilatarbelakangi oleh keinginan kebutuhan material. Aspek spiritual dan religius tidak menjadi ukuran untuk menentukan pembangunan suatu bangsa. Sehingga pertumbuhan ekonomi nyaris menjadi ideologi yang menentukan semua perilaku masyarakat.[3]

Ilmu pengetahuan yang bertujuan mencari kebenaran dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat, justru masih belum mampu menciptakan keadilan, bahkan semakin membentuk individualisme, materialisme, dan ketamakan yang membahayakan tata kemanusiaan. Contoh dalam bidang ekonomi, kesenjangan antara masyarakat kaya dan yang miskin semakin dalam karena ilmu ekonomi masih melahirkan keinginan tak terbatas manusia dalam memenuhi kebutuhan di satu pihak.

Perubahan sosial mengandung sejumlah konsekuensi perubahan sikap dan keadaan psikologis masing-masing individu, keluarga, dan masyarakat sebagai sasaran dakwah dalam menerima materi dakwah ( ajaran islam ). Masyarakat yang terlibat untuk bekerja di sektor industri mengakibatkan tidak memiliki waktu luang. Hingga mengakibatkan semakin longgarnya ikatan keluarga karena mobilitas vertikal anggota keluarganya.

Perubahan tatanan masyarakat, mulai diragukannya tata nilai lama dan masalah yang semakin kompleks yang dihadapi masyarakat, menimbulkan masalah tidak adanya hukum yang pasti dalam melindungi hak asasi manusia. Dalam perubahan masyarakat saat ini, penegakan rule of law lebih banyak sebagai tumpukan harapan daripada perwujudannya. Tugas dakwah islam disini sebagai penegak kepastian hokum dari ketidakpastian hokum asasi ini.

Saat ini juga masih banyak penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan. Dakiwah islam menghadapi masalah nyata, yaitu membebaskan kemiskinan. Kenyataan menunjukan, adanya masyarakat yang secara rela ataupun terpaksa mengorbankan akidah, ahlak, ataupun kehormatannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena pada dasarnya, jika basic need tidak dapat dipenuhi, maka sangat mudah bagi seseorang dipengaruhi oleh mereka yang mampu memenuhinya. Sudah pasti, kesempatan ini dimanfaatkan oleh kelompok nasrani lewat proses kristenisasi. Empat jalan yang dilalui kelompok nasrani dalam propagandanya. Pertama, jalur ekonomi, yaitu dengan pemanfaatan keadaan fakir seseorang. Kedua, jalur pendidikan. Ketiga, jalur pelayanan masyarakat. Keempat, jalur politik.

Nampaknya, hal yang menjadi garapan utama para pengembang dakwah saat ini adalah pembentukan dan pembinaan akidah salimah diiringi dengan penangan kebutuhan primer secara serius. Yang semuanya melalui pesan/ materi dakwah yang disampaikan kepada masyarakat. Hanya saja, dengan melihat perubahan sosial serta problematika yang semakin kompleks, swaat ini penyampaian materi dakwah ( ajaran-ajaran islam ) tidak cukup hanya dengan proses ceramah yang yang sering dilakukan dalam kegiatan pengajian-pengajian, tetapi juga butuh adanya campur tangan atau keterlibatan institusi atau lembaga-lembaga dakwah yang menampakkan adanya usaha untuk membebaskan umat dari ketergantungan kepada pihak lain, dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan bidang lainnya. Tapi yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran  mendalam. Sebagaimana hamba allah, yang akhirnya memiliki kepribadian kuat, sehingga sifat ketergantungan menjadi bisaa diatasi.

Kesimpulan

Setelah membahas tentang materi dan problematika masyarakat, kami dapat menyimpulkan bahwa, dalam proses dakwah yang disampaikan oleh da’i kepada mad’u pada intinya merupakan proses penyampaian nilai atau ajaran-ajaran islam, yang bertujuan untuk mengajak manusia pada jalan yang diridhai Allah serta mengubah perilaku mad,u agar dapat menerima ajaran-ajaran islam serta mewujudkannya dalam segala aspek kehidupan. Nilai-nilai atau ajaran islam yang disampaikan, secara umum dapat dibagi ke dalam tiga permasalahan, yaitu masalah Aqidah, Syariah, dan Akhlak, yang ketiganya bersumber dari Al-Quran dan Hadits, ataupun dari opini ulama.

Pada saat ini, zaman yang semakin dikendalikan oleh ilmu dan teknologi, juga di mana perubahan sosial semakin sering terjadi, dakwah dituntut untuk menyesuaikan dengan keadaan dan problematika masyarakat saat ini.

Aktualisasi sistem dakwah selalu berhadapan dengan serangkaian masalah yang kompleks. Mulai dari masalah ekonomi, pendidikan, politik, hukum, dan lainnya. Tugas dakwah islam mengembalikan segala masalah atau perubahan ke arah yang sesuai dengan agama islam. Hanya saja, dengan melihat keadaan saat ini, materi dakwah tidak lagi cukup dilakukan dengan cara ceramah-ceramah di berbagai kegiatan keagamaan. Namun juga butuh institusi atau lembaga yang ikut terlibat dalam menanamkan adanya usaha dalam mengembangkan dakwah dan membebaskan umat dari ketergantungannya kepada pihak lain.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe