Aku dan Simbalku


Aku tak biasa berdendang
Hanya beberapa alunan perlahan
Aku tak biasa melagukan
Hanya irama teman berjalan
Tutup panci adalah simbalku
Wajanku terketuk perlahan
Guting lusuh itu menderu cepat
Percikan minyak meloncat loncat
Aku bukan penikmat malam
Aku bukan langganan studio rekaman
Tapi tak ada seorang melarang
Aku memukul simbalku setiap malam
Perempatan Ibrahim adalah panggungku
Sejam berlalu ku cari audiens pertamaku
Bukan konser memang,
aku hanya penjual tahu tek yang tak mau ditelan jaman


23:11 | Gustaf Wijaya |