Kodak (almost) (alm)

ini kodak
punya Irawan


dan pagi ini saya membaca sebuah artikel di kompas yang berjudul : Jangan remehkan pesaing . Yang ternyata memberikan contoh sebuah perusahaan yang konon sebenarnya pelopor, menjadi perusahaan bangkrut tak ketulungan. Dan perusahaan itu adalah kodak.

Mungkin juga anda, saya masih ingat ketika saya kecil, saat keluarga kumpul, atau keluar kota, ke wahana wisata, yang membuat saya terkagum - kagum adalah Tustel atau Ibu saya terkadang menyebutnya dengan "kodak". Seuatu kotak ajaib yang kemudian lebih familiar saya kenal dengan Kamera.

Dan, hari ini Kodak dinyatakan sudah Bangkrut. tengok apa kata Antara beberapa bulan lalu : Bangkrutnya kodak, pelopor fotografi

dari Wiki

"During most of the 20th century Kodak held a dominant position in photographic film, and in 1976 had a 90% market share of photographic film sales in the United States. The company's ubiquity was such that its tagline "Kodak moment" entered common lexicon as a personal event that demanded to be recorded for posterity"
Ya, sangat legendaris, disegani dan tak ada lawan di abad ke 20. Masuk abad 21, Kodak memperkenalkan era Kamera Digital. Di sinilah titik dimana Kamera berkualitas dan Legendaris macam Kodak dan Leica, kualahan menghadapi gempuran kamera ciamik nan "terjangkau"   (setidaknya dibanding dengan yang lebih legendaris tadi) semacam Canon dan Nikon.

sebuah blog internasional  mengatakan :
"Sejak 1888, George Eastman menciptakan sebuah mesin yang menangkap gambar pada pelat kaca besar. Tak puas dengan terobosan itu, dia melanjutkan untuk mengembangkan film roll dan kemudian kamera Brownie. Selanjutnya pada 1960, Kodak mulai mempelajari potensi komputer dan membuat terobosan besar di tahun 1975, saat salah satu insinyur, Steve Sasson, menemukan kamera digital.

Namun, Kodak tak segera mencium potensi pasar tersebut dan tak fokus pada high-end kamera bagi pasar niche. Para eksekutif juga takut mengorbankan penjualan film initi mereka. "Ketika (George Eastman) meninggal, ia menyisakan pengaruh pada perusahaan, yang salah satunya Kodak akan terus terikat dalam nostalgia," kata Nancy Westt, seorang profesor yang menulis sejarah Kodak dari University of Missouri. "Nostalgia memang indah, tapi itu tidak memungkinkan orang untuk bergerak maju." tandasnya. 

Selain itu, penyebab kebangkrutan Kodak karena perusahaan tersebut melewatkan peluang bisnis. Di Consumer Electronics Show di Las Vegas tahunan pekan lalu, Perez dan Kodak memperkenalkan dua kamera baru yang diyakini bisa terhubung secara nirkabel dengan printer dan posting foto ke Facebook. Namun beberapa pengulas gadget mengatakan kamera baru tidak bisa terhubung ke web tanpa membonceng pada smartphone atau koneksi Wi-Fi.

"Orang tidak hanya tertarik dengan fitur baru, kecuali sesuatu yang revolusioner, dan ini adalah fitur tambahan,"ujar Suzanne Kantra, Editor Blog Teknologi Techlicious dan mantan Editor Teknologi Popular Science.

Analis mengatakan Kodak bisa menjadi sebuah kelompok media sosial jika telah berhasil meyakinkan konsumen untuk menggunakan layanan online untuk menyimpan, berbagi, dan mengedit foto-foto mereka. Sebaliknya, Kodak berfokus terlalu banyak pada perangkat dan kalah dalam pertempuran online untuk jaringan sosial seperti Facebook."

Kodak memang tidak sepenuhnya hilang, konsumen di Indonesia yang terlanjur menikmati produk kodak  juga masih bisa  mendapatkan pelayanan dari Kodak. hanya saja mereka keluar dari dunia Kamera, Produk kamera yang mereka duniakan dan menduniakan mereka. Get well soon Kodak.