AddToAny

Beberapa hal tentang Kota Medan (menurut saya)

Saya seorang yang suka mengajar. Saat masih SMP , pada sebuah form saat mengikuti lomba, saya tuliskan dengan penuh kesadaran : cita-cita: Dosen. Gurunya para guru. Dan bagi saya, hari ini mungkin saya punya cita-cita baru. Soal cita-cita, kapan-kapan saya cerita.

Foto bersama anak-anak ssc rungkut, kelas terakhir yang saya ajar


Nah, itu tadi intro nya,
Anggap saja ini laporan saya tentang apa saja yang saya lakukan di Medan.
Ada yang suka friends with benefits? Justin Timberlake pernah nyanyi ini saat mencumbu si Kunis : “evey new beginning comes from some others beginning end”. Heiyah! Jangan dibayangin cumbuannya, tapi resapi maknanya. Bahwa harus ada yang dikorbankan dan ditinggalkan untuk sesuatu yang baru.

Yak, seperti post saya sebelumnya, saya ke Medan. Kota terbesar ketiga di Indonesia. Kesan pertama yang saya dapat adalah, ini kota yang maju, modern, keren, dan pedas. Kata terakhir membuat mulut saya ndower selama dua minggu di sana (sariawan, saya tidak bisa makan pedas sejak bayi).

Beberapa hal yang saya terima dari omongan orang sebelum ke Medan dan terbukti adalah;


(
1. (Tentu) Masakan Medan Pedas dan bersantan
Ternyata memang benar, pedasnya nendang abis. Medan adalah surga kuliner bagi mereka pecinta pedas dan makanan aneh-aneh, trust me. Tapi tidak untuk mulut saya. Anda yang penggemar berat Mi Aceh? Silahkan ke Medan, Mi Aceh di Medan seperti Nasi Pecel di Madiun, tiap gang ada! Kuliner di Medan memang terpengaruh arus kuliner Aceh (dari barat) dan Padang (dari timur). Top dah (ingat, bagi yang suka kuliner pedas) 

2         Medan Surga Durian
Saya diajak 2 teman sejawat yang seumuran namun lebih senior secara kerjaan di Coffindo. Ucok urian, begitu lah namanya, bumm.. 



satu Pick up penuh durian datang, d Ucok, durian disajikan layaknya kita menyantap Kelapa Muda, fresh, baru dibelah dan langsung tanpa olah. Lahap deh. belum habis satu durian kita santap, 1 pickup penuh sudah datang lagi, yasaalaam.. ampun deh

3.       Kualanamu is amazing (dan jauh)
Ya, saya hanya membayangkan seperti apa Airpost MEdan yang baru ini, dari berita, keren, terintergrasi kereta Api dan salah satu yang terbesar se-Asia katanya. dan Memang benar, fresh, modern dan rapi. Hanya saja memang, jauh dari kota. Perlu setidaknya 2 jam, infrastuktur jalan juga masih belum 100% lengkap, tapi, airport yang satu ini, tulen keren bro.



4.       Medan Kota itu mayoritas Jawa
o    yap, saya tidak percaya saat wikipedia mencatat stastistik demografi yang menyatakan bahwa mayoritas penduduknya adalah Etnis Jawa (30%)  dan memang benar! Pak Sofyan yang menjemput kami di Kualanamu, asli Pacitan, Tukang sayur depan mess, asli Surabaya, Bakso dekat perempatan jalan Rajawali ya orang Lamongan. Banyak orang asli Jawa tetapi kelahiran Medan juga di sini. Jadi terkadang ada bahasa jawa masuk di telinga, dan itu menyejukkan.wkwk


Beberapa hal yang saya kira gini ternyata begitu di Medan :
1.       Masjid Rayanya super Jumbo
Ternyata tidak juga, luas Masjid Raya Medan mungkin hampir sama dengan masjid Al-Azhar Jakarta, tidak lebih, apa yang di Kalender tampak besar, belum tentu aslinya demikian. 


2.       Ndak bakal macet
Jangan salah, menyandang kota terbesar ketiga di Indonesia, gang sepi pun bisa jadi seperti ini pada jam kerja (dan inget, tidak ada aturan lalu lintas di Medan, libas baangg) 



3.       Kena Sinabung
Iya, terkena, tapi tidak separah yang saya bayangkan, ada banyak debu, tapi sangat wajar. Jadi, televisi lebay itu kadang ada benarnya.

4.       Indomaret dan sinyal sulit dicari, (bukan, bukan itu, mereka berdua available, listrik yang byar pet)
ada 429 Indomaret se Medan, jadi, kekhawatiran saya akan jauh dari tempat kebutuhan sehari-hari tidak mendasar. Juga, perlu dicatat, Mall- Mall di Medan sama kelasnya dengan Surabaya. Ada Sun Plaza yang sekelas Tunjungan Plaza, ada juga Paladium yang sekelas Cito. Tetapi, listrik sering kali padam di kota ini, pedagang lilin omzetnya insya Allah disini tinggi.wkwk

Yak, sekian dulu ya tentang Medan, terima kasih Medan, kapan - kapan berjumpa lagi.










author
Gostaff
Penikmat kopi arabica yang suka rak buku dan seisinya