AddToAny

Pra Kipnas XI: Saatnya Industri Farmasi Indonesia Bangkit

Repost untuk dokumentasi penulis

Komisi Kesehatan dan Kedokteran baru saja melangsungkan agenda Focus Group Discussion (FGD) pertama pada Selasa (23/6) di Auditorium Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Komisi tersebut adalah satu dari empat dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) yang akan berlangsung pada 8-11 Oktober 2015 nanti.
Para tokoh menyoroti perkembangan riset dalam industri farmasi Indonesia yang masih sangat lamban. Hal ini sangat miris jika dibandingkan dengan keberagaman hayati yang ada di Indonesia, seperti yang diungkapkan Prof Nasronudin pakar farmasi dari Universitas Airlangga Surabaya. ”Indonesia kaya akan SDA mikroorganisme untuk dapat dimanfaatkan di bidang pengobatan dan kesehatan, ada beragam jenis tanaman yang potensial untuk ditumbuhkembangkan menjadi produk, dari 32000 jenis tanaman yang ada, 3000 diantaranya tanaman obat, namun untuk bahan baku obat masih saja impor,” jelasnya.
Menanggapi lambannya perkembangan industri farmasi di Indonesia, Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI Dr. Nina Artanti menyatakan bahwa penelitian di luar negeri sebenarnya hampir sama dengan yang dilakukan di Indonesia. “Hanya saja selama ini hasil penelitian ilmuwan Indonesia belum dapat diaplikasikan dan bermanfaat bagi industri,” terangnya.
Hal tersebut didukung oleh Prof. Dr. Daryono Hadi Tjahjono, Dekan Sekolah Tinggi Farmasi ITB. Beliau menyatakan bahwa kapasitas Indonesia tidak kalah dengan negara lain. “Fasilitas dari pemerintah sudah cukup mendukung dengan bantuan dana untuk penelitian uji klinis. Perlu kebijakan nasional yang terkait kemandirian bahan baku obat,” ungkapnya. “Kelemahannya, kurang koordinasi sinergis antara kementerian, organisasi terkait, dan dunia industri” tambahnya.
Sementara, sebagai wakil dari dunia industri dalam forum tersebut, Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia Darodjatun Sanusi, MBA mengkritisi minimnya perhatian pemerintah atas perkembangan industri kesehatan & pengobatan, khususnya farmasi dasar. “Isu – isu tersebut (di atas) adalah isu lama, namun tidak kunjung ada gerakan yang cukup kuat untuk dilirik stakeholder dan pemerintah” tegasnya.
Darodjatun menerangkan bahwa di negara seperti Cina dan India, penelitian dibiayai oleh pemerintah melalui universitas. “Cina mampu mengontrol penuh harga obat generik. Di Indonesia, pemerintah sudah memiliki keinginan untuk mengontrol harga obat, di sisi lain industri farmasi tentu kualahan untuk merealisasikan hal tersebut karena bahan baku masih impor,” tuturnya.
Ketua Komisi Kesehatan dan Kedokteran, Prof. dr., Amin Soebandrio. Ph.D, Sp.MK, bahwa sudah saatnya kebangkitan industri farmasi kembali digaungkan, salah satunya melalui KIPNAS XI ini. “Isu-isu tersebut sudah dilakukan sebelumnya dan memang perlu dilakukan studi apakah rekomendasi yang dihasilkan masih visible untuk diterapkan” terangnya.
                Dalam rangkaian kegiatan pra-KIPNAS XI ini, akan dilakukan FGD lanjutan oleh Komisi Kesehatan dan Kedokteran pada 28 Juli 2015 nanti. Agenda FGD tersebut direncanakan untuk menemukan benang merah analisis SWOT yang bersumber dari paparan – paparan pada FGD pertama ini. “Perlu kita pilah komponen mana yang paling besar untuk diperhatikan dalam penentuan kebijakan, yang pada akhirnya menghasilkan rekomendasi yang matang bagi pemerintah, sehingga hasil dari KIPNAS dapat mendorong kebangkitan industri farmasi Indonesia” jelas Amin. (gst)
author
Gostaff
Penikmat kopi arabica yang suka rak buku dan seisinya