#2019keAmerika

Seorang Pramugari JAL yang kira – kira umurnya 5-6 tahun di bawah Ibu saya, memberi secarik kertas, isinya Kanji semua. “blab la bla”… dengan gesture menolak, Pak Anggoro, yang di sebelah saya, menolak kertas itu. Oh saya Paham, rupanya itu isian imigrasi Jepang, dan kami tidak perlu isi karena hanya transit di Narita. Buyar lamunanku.

Saat masuk LIPI 2015 nggak kebayang saya akan mendapatkan kesempatan ke luar negeri, sekali syukur, eh dapat lagi. Cukup beruntung saya masuk LIPI disaat suasana kantor “mendidik”. Setahun setelah masuk, saya dapat kesempatan ke Bangkok, nganter anak – anak lomba. Dua tahun kemudian, dapat lagi, lebih jauh, ke Phoenix. Ya, Arizona, Ya, Amerika.

Hanya, tidak gampang memang, trickynya di sini. Yang kami kawal anak kelas 3 semua. 7 anak kelas 3 SMA, 1 anak kelas 3 SMP. Mengapa tricky? Preparenya bersamaan dengan mereka UN, dan, kami pilpres, tambah tricky lagi, tanggal merah April kemarin (April 2019) uakeh pol pun. Jadi kami (saya dan Mbak Yuta yang berangkat) mungkin dua dari sedikit orang yang bertanggal merah dengan dag dig dug, beres nggak ni VISA. Tambah lagi, menjelang puasa, menjelang summer break, orang apply VISA US rame – ramenya.

OK, intinya soal VISA semua rombongan aman, saya dan Pak Anggoro mengulang 2x, karena apply pertama hijau dan ASN tidak boleh paspor hijau untuk apply VISA per 2017 an or something. Bagus juga sih, akhirnya paspor kami dua duanya bervisa amrik.

Seteduh apa Phoenix 
Gustaf, bawa masker, nggak usah puasa, baju hitam jangan dibawa, siap – siap dipanggang, Phoenix ga karuan panasnya, ini udah menjelang summer. Mas Yudi, seniorku yang baru balik sekolah dari Kentucky mengingatkan.

Yap kami berangkat hari ke 4 Ramadhan dan 11 hari (termasuk di jalan) berpergian. Berangkat : sahur di mobil menjelang ke bandara, sampai Narita Ashar, pindah pesawat naik dikit Magrib, berbuka di American Airlines. Pesawat menuju ke timur, sampai di tengah jalan, siang lagi, sampai Dallas masih sore jam 4, pindah pesawat lagi, sampai Phoenix isya. Ok, Ya Allah, kalau hari pertama di Phoenix saya coba puasa kuat, saya lanjut sampai terakhir. Ternyata Allah suka dengan doa itu. Phoenix seteduh Bogor selama kami di sana. Modal sahur Indomie dan sandwichnya Subway yang saya kulkasin. Berbuka disaat orang Indonesia sahur, dan sahur saat orang Indonesia tarawih.

Orang Barat
Pertama sampai, saya buka gorden kamar, downtown Phoenix waktu isya sudah sepi (konon di pinggir kota, seperti Tempe ~Tempi bacanya, bukan mendoan~ lebih hidup di jam itu) oke, noleh kanan, kok ada lettering yang nggak heran, FREEPORT McMORAN. Welah, hotel kami menginap sebelahan dengan Head Office Freeport.

Kami beruntung, Dera, anak bali, ayahnya ada teman di Freeport di sini. Dijamu makan – makan di hari terakhir. Saya tanya ke Pak Sugeng, salah satu orang Freeport asli Indonesia yang sudah belasan tahun di sana, “Apakah karena ini acara Internasional dan kontestannya pilihan, makanya orangnya ramah – ramah, atau mereka (orang barat) ini memang sedang belajar sopan santun? Saya merasa lebih nyaman di banding di Jakarta, di soal keramah tamahan”. “Nggak kok, tanpa event pun mereka memang sedang belajar adat kita (ketimuran) jadi jangan salah kalau bule lebih sopan, bukain pintu, mempersilahkan kita keluar dari lift duluan, di luar mereka yang memang sudah hidup disiplin sedari kecil.” Jawab Bapak asli Ngawi ini.

Pelajaran yang saya dapat adalah, orang barat, sejauh pengalaman saya di sana, memang benar – benar sedang belajar tata krama, di luar memang mereka yang berdarah disiplin. Phoenix kota terbesar ke 5 di US, fyi. Sebaiknya kita, orang +62, mulai belajar disiplin dimana pun. Buang sampah, antrian, cara berkendara, tegur sapa orang. Kalau etika? Darah timur kita sudah membenamkan DNA beretika sejak lahir. Sopan Santun, ramah tamah. Di manapun kamu, sapa orang lebih dahulu. Hari ini mungkin dia bukan siapa – siapa. Lusa mungkin dia jadi bosmu. Loh.

Tengah : Freeport
Teduh kan (ketutupan gedung) aslinya seterik Surabaya sih.


Gustaf Wijaya

Instagram