AddToAny


ada yang inget ini tahun berapa?hehehe
Tidak semua tugas dapat kita kerjakan sendiri bukan? Apalagi jika posisi kita adalah atasan, baik atasan di kantor, di lingkungan sosial kita, atau di organisasi yang kita naungi.

Saya bukan atasan suatu perusahaan, saya hanya serang mahasiswa yang kebetulan membaca suatu sumber yang berkaitan erat dengan ini, dan sepanjang pengalaman saya mencoba masuk di organisasi ini dan itu, degelasi dan praktik kerjanya sering kali justru menyulitkan pemimpin dan yang dipimpinya, berujung  pada segala sesuatu yang berjalan di luar master plan yang ada, atau malah menjadi boomerang dan semacam bunuh diri bagi atasan itu sendiri.
OK,
Berikut kriteria tugas – tugas yang layak untuk didelegasikan (menurut buku yang saya baca) :
1.    Tugas yang berulang – ulang (anda kerjakan), agar anda dapat menghemat waktu utama untuk mengatasi tugas – tugas “istimewa”.
2.    Tugas yang tidak sesuai dengan keahlian adan pengalaman anda.
3.    Tugas yang melemahkan spesialisasi.

Jangan mendelegasikan sesuatu jika :
1.    Jangan melimpahkan wewenang anda bila tidak ingin pulang cepat.
2.    Jangan melimpahkan wewenang jika memang anda tidak ada opsi di waktu libur.
3.    Jangan melimpahkan wewenang jika memang tidak ada halangan di waktu luang
4.    Jangan melimpahkan wewenang jika tidak ingin hasil tugas / pekerjaan anda tidak seperti yang anda bayangkan.
5.    Jangan melimpahkan wewenang jika anda ingin meningkatkan kemampuan anda di bidang itu.
6.    Jangan melimpahkan wewenang jika anda ingin menjadi pelayan yang baik bagi bawahan anda.
7.    Jangan melimpahkan wewenang jika anda tidak ingin menghabiskan waktu anda untuk hal yang tidak perlu
8.    Jangan melimpahkan wewenang jika anda memiliki bawahan yang bodoh dan pemalas
9.    Jangan melimpahkan wewenang jika anda tidak ingin mengurung bawahan dengan tugas yang menumpuk.
Kenapa kita tidak mendelegasikan?
1.    Kurang percaya pada orang lain
2.    Takut bermain resiko
3.    Khawatir terlihat malas
4.    Orang menganggap, delegasi = lari dari tanggung jawab
5.    Tidak adanya contoh pada bidang ini.
6.    Dominasi, takut tersaingi.
Bagaimana mendelegasikannya?
1.    Duduk dengannya
2.    Jelaskan tugas yang akan didelegasikan kepadanya, pastikan dia tahu target dari tugas tersebut, tata cara dan deadlinenya.
3.    Minta komitmennya
4.    Diskusikan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi selama tugas tersebut dilaksanakan.
5.    Keep in touch
6.    Motivasi dia, hadiah atau bonus of something like that :D
Siapa yang mewakili anda?
2 kriteria :
1.    Mempunyai kemampuan dan keahlian yang sesuai dengan tugas
2.    Mempunyai minat dan semangat untuk menyelesaikan tugas sebaik mungkin.
Sisanya? Terserah anda :)
Semoga bermanfaat

*foto Pak Jokowi, Pemimpin penuh sahaja dari Solo :D
(Halal bi Halal SMA 1 Trenggalek tahun berapa saya lupa.he3)

 



Kebetulan sore hari saya menyapu halaman, lalu menegok ke depan, seperti biasa, banyak santri berpeci dan berkerudung sedang hilir mudik di jalan, maklum, di depan adalah pondok putri dan di kanan rumah adalah pondok putra, di bawah satu naungan yayasan AM, *ups, salah satu pondok terbaik di Indonesia.

satu hal yang membuat saya tertarik menulisnya, menyoroti yang bagian ini...

dalam suatu saat, di masa pendaftaran, ada sekeluarga,berniat mendaftarkan anaknya tercinta, wajah Bapaknya tampak antusias, Ibunya apa lagi, tapi, anaknya yang mau di daftarkan -.-a menunjukkan wajah sendu, galau, gusar. mungkin dapat dimaklumi, pondok bukan tujuan favorit banyak anak.


mau SMP mana? 
SMP anu  mas, yang SBI

ketemu lagi...  

mau SMA mana?
temen2ku ke sma ini semua mas, saya juga ndak kuat di sbi paling...pengen sekolah nyante


realitasnya memang demikian, so? ada yang salah dengan pondok?

padahal :
tengok ni :
http://blog.re.or.id/pendidikan-pondok-pesantren-tradisional-di-indonesia.htm
http://www.miftahussholihin.co.cc/2010/08/keunggulan-pendidikan-pesantren-masa.html
http://www.scribd.com/doc/2978118/skripsi-pendidikan


ndak kalah tahu pondok tuh, di sana tidak hanya tahu dunia, tapi juga paham akherat. lalu apa yang salah?
dari curhat teman teman saya yang pernah mondok,yang paling menyebalkan adalah resiko barang tertukar, barang yang mereka bawa dari rumah lenyap dengan mudah.


juga yang mengerika anak muda adalah sistem jam biologis mereka yang ketat. Jam 10 malam harus tidur, jam 3 harus bangun, jam 7 harus apel -.-a


kyai dan ustad yang galak dan seterusnya,


tapi yakin, semua itu untuk kebaikan santri sendiri. Semoga masih banyak anak yang mau masuk pesantren dengan suka rela dan bukan korban pelampiasan hasrat orang tua, atau pelarian mereka karena kesulitan "meluruskan anaknya"


Sekolah yang terbaik adalah sekolah yang mampu memfasilitasi anak didik dan gurunya tampil dan berkembang maksimal, 


lalu? bagaimana jadi maksimal?


dengan melakukan semuanya dari hati, bukan paksaan bukan?


semoga emes anda dan emes saya senantiasa peduli akan hal ini dan tidak memaksakan pijakan anaknya kesana- sini.


Tetep semangat :D


*penulis adalah  seorang yangmengidamkan untuk dipondokkan, namun niat selalu urung dilaksanakan karena statussebagai anak tunggal membuat orang tua keberatan untuk ditinggalkan :)


foto dari : http://komunitasamam.wordpress.com/2011/02/23/pemberdayaan-pesantren/pondok-pesantren/

Aku tak biasa berdendang
Hanya beberapa alunan perlahan
Aku tak biasa melagukan
Hanya irama teman berjalan
Tutup panci adalah simbalku
Wajanku terketuk perlahan
Guting lusuh itu menderu cepat
Percikan minyak meloncat loncat
Aku bukan penikmat malam
Aku bukan langganan studio rekaman
Tapi tak ada seorang melarang
Aku memukul simbalku setiap malam
Perempatan Ibrahim adalah panggungku
Sejam berlalu ku cari audiens pertamaku
Bukan konser memang,
aku hanya penjual tahu tek yang tak mau ditelan jaman


author
Gostaff
Penikmat kopi arabica yang suka rak buku dan seisinya