AddToAny

Ini bukan tulisan promosi suatu obat kuat, pun bukan sebuah layanan koperasi simpan - pinjam. Kuda Liar sejahtera muncul begitu saja di otak saya setelah menerima sms dari panitia English League yang menanyakan nama tim futsal kami apa.

Ya, di Kampus kami, baru saja diselenggarakan kompetisi (mandiri) yang bertajuk "English League"  . Liga Inggris, ya, liga antar prodi dan angkatan se-Jurusan bahasa Inggris UNESA. Pembagiannya, Sastra 2008 sendiri, pendidikan 2008 sendiri dan begitu seterusnya.  Panitianya hanya beberapa orang yang memang sangat aktif di EFC (divisi futsal di Jurusan Bahasa Inggris) pun itu sudah cukup  untuk menyelenggarakan suatu kegiatan yang memang (saya yakin) bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi ini. 

saya sendiri ikut bermain, bersama tim Sastra 2009, ada : 

1. Alan Irawan, Messi-nya jurusan Bahasa Inggris UNESA, sambil tidurpun, 10 pemain lawan bisa dia lewati dengan mudah. 


2. Alid Mahardika, Cowok paling ganteng sak Jurusan Bahasa Inggris UNESA, aktor di dalam dan luar lapangan. Ribuan Fansnya selalu menyaksikan pertandingan kami kala dia bermain
next, 
3. Diqi Haul Haq, Gattuso-nya Sastra Inggris 2009. Permainan keras oleh pemain yang berhati lembut. 
4. Fahmi Leksono, Winger Flamboyan, Charlie Adam-nya tim kita, wajahnya kebritish-britisan, termasuk gaya rambutnya. 

5. Ahmad Furqon, Bek jangkung yang tinggi sebenarnya hampir sama dengan Yao Ming (cuma dia banyak merendah)

6. Rheza Piscessa, Tembok kami, gede dan berotot, posturnya sangat ideal untuk bek di sepakbola modern.

7. Ignasius Hendra, seperti biasa, keberadaanya menghentak lapangan, ramah bersama tim, garang menghadang lawan

8. Budi Satria, teman saya ini serba bisa, depan bisa belakang oke, mencetak satu gol saat semifinal (saya kasih assist loh, sayange kita kalah). Gaya khasnya adalah ote-ote (telanjang dada) selepas pertandingan. 
ndak percaya? ini lagi deh : 

berikutnya ada (depan sendiri) si Sabdo



9. Sabdo Hermawan, hanya bermain sekali (kemudian mengalami cedera serius di pelipis kirinya), spartan dan tidak pandang bulu (dan kadang juga tidak pandang bola) selalu membuat suasanya hidup dan mesra.
10. Johan Teguh Lesmana, Stiker yang juga Programmer andalan kami, kemampuan di lapangan sama baiknya dengan kemampuannya di atas papan keyboard, orang IT nomor 1 di Jurusan bahasa Inggris, tenang, menghanyutkan. Selalu mengancam gawang lawan saat turun di lapangan.
11. Rahmat Setiawan, Sastrawan muda berbahaya, selalu hadir di setiap petandingan, selalu semangat, kemampuan analisis bolanya patut diacungi 15 jempol (andai anda punya 15 jempol), satu-satunya pemain kami yang selalu ditemai istri di sisi lapangan.



dan 12. Gustaf Wijaya, saya sendiri, striker yang ndak pernah mau defend, pembuang banyak peluang, tempramen dan hanya mencetak gol jika kiper lawan matanya kena debu.
  
nah, kami di grup B, kami kalah sekali di semifinal, dan kami juara 3
lumayan lah, yang penting kan fun, menang kalah bisa diatur dan bisa minta untuk diatur to? toh, kami bukan atlet, kami hanya beberapa calon sastrawan (atau setidaknya calon lulusan sastra) yang bermain bola, menghibur yang lelah jiwanya.hehehe


berikut beberapa foto lain yang bisa anda nikmati, monggo : 

tetep rukun dengan lawan
di suporteri cewek - cewek menawan
 





because You 
 


 + Us

 





= We






Sampai jumpa di kompetisi selanjutnya, menang kalah, kami bermain bersama sodara. Lovable moment mumpung masih muda, Work Hard, Play Hard. credit buat panitianya, semangat! Thanks all.



sekian, makasih semua :D

ini kodak
punya Irawan


dan pagi ini saya membaca sebuah artikel di kompas yang berjudul : Jangan remehkan pesaing . Yang ternyata memberikan contoh sebuah perusahaan yang konon sebenarnya pelopor, menjadi perusahaan bangkrut tak ketulungan. Dan perusahaan itu adalah kodak.

Mungkin juga anda, saya masih ingat ketika saya kecil, saat keluarga kumpul, atau keluar kota, ke wahana wisata, yang membuat saya terkagum - kagum adalah Tustel atau Ibu saya terkadang menyebutnya dengan "kodak". Seuatu kotak ajaib yang kemudian lebih familiar saya kenal dengan Kamera.

Dan, hari ini Kodak dinyatakan sudah Bangkrut. tengok apa kata Antara beberapa bulan lalu : Bangkrutnya kodak, pelopor fotografi

dari Wiki

"During most of the 20th century Kodak held a dominant position in photographic film, and in 1976 had a 90% market share of photographic film sales in the United States. The company's ubiquity was such that its tagline "Kodak moment" entered common lexicon as a personal event that demanded to be recorded for posterity"
Ya, sangat legendaris, disegani dan tak ada lawan di abad ke 20. Masuk abad 21, Kodak memperkenalkan era Kamera Digital. Di sinilah titik dimana Kamera berkualitas dan Legendaris macam Kodak dan Leica, kualahan menghadapi gempuran kamera ciamik nan "terjangkau"   (setidaknya dibanding dengan yang lebih legendaris tadi) semacam Canon dan Nikon.

sebuah blog internasional  mengatakan :
"Sejak 1888, George Eastman menciptakan sebuah mesin yang menangkap gambar pada pelat kaca besar. Tak puas dengan terobosan itu, dia melanjutkan untuk mengembangkan film roll dan kemudian kamera Brownie. Selanjutnya pada 1960, Kodak mulai mempelajari potensi komputer dan membuat terobosan besar di tahun 1975, saat salah satu insinyur, Steve Sasson, menemukan kamera digital.

Namun, Kodak tak segera mencium potensi pasar tersebut dan tak fokus pada high-end kamera bagi pasar niche. Para eksekutif juga takut mengorbankan penjualan film initi mereka. "Ketika (George Eastman) meninggal, ia menyisakan pengaruh pada perusahaan, yang salah satunya Kodak akan terus terikat dalam nostalgia," kata Nancy Westt, seorang profesor yang menulis sejarah Kodak dari University of Missouri. "Nostalgia memang indah, tapi itu tidak memungkinkan orang untuk bergerak maju." tandasnya. 

Selain itu, penyebab kebangkrutan Kodak karena perusahaan tersebut melewatkan peluang bisnis. Di Consumer Electronics Show di Las Vegas tahunan pekan lalu, Perez dan Kodak memperkenalkan dua kamera baru yang diyakini bisa terhubung secara nirkabel dengan printer dan posting foto ke Facebook. Namun beberapa pengulas gadget mengatakan kamera baru tidak bisa terhubung ke web tanpa membonceng pada smartphone atau koneksi Wi-Fi.

"Orang tidak hanya tertarik dengan fitur baru, kecuali sesuatu yang revolusioner, dan ini adalah fitur tambahan,"ujar Suzanne Kantra, Editor Blog Teknologi Techlicious dan mantan Editor Teknologi Popular Science.

Analis mengatakan Kodak bisa menjadi sebuah kelompok media sosial jika telah berhasil meyakinkan konsumen untuk menggunakan layanan online untuk menyimpan, berbagi, dan mengedit foto-foto mereka. Sebaliknya, Kodak berfokus terlalu banyak pada perangkat dan kalah dalam pertempuran online untuk jaringan sosial seperti Facebook."

Kodak memang tidak sepenuhnya hilang, konsumen di Indonesia yang terlanjur menikmati produk kodak  juga masih bisa  mendapatkan pelayanan dari Kodak. hanya saja mereka keluar dari dunia Kamera, Produk kamera yang mereka duniakan dan menduniakan mereka. Get well soon Kodak.
author
Gostaff
Penikmat kopi arabica yang suka rak buku dan seisinya