AddToAny




4 Desember 2015 umur saya menjadi 25 tahun
Genap 7 bulan menikah
Genap 10 bulan berada di LIPI, Jakarta
Genap 6 tahun berada di luar Trenggalek.

Banyak pihak menganggap 25 sebagai quater-life crisis. Ya, usia yang rentan stres kanan dan kiri.
Beberapa hal yang perlu saya ingat kembali, saya catat untuk bahan renungan bersama

1. Get your couple by now 
Terima kasih tak terhingga terus saya haturkan kepada Allah SWT. Satu keputusan yang saya ambil di usia ini adalah menikah. Banyak hal yang berubah setelah orang menikah, rejeki nambah, beban nambah. Dinamika yang belum setahun saya rasakan luar biasa, menyenangkan dan mengharukan jadi satu, tapi itu lah hidup. Bagi yang belum nikah, segera tentukan langkah kawan, don't be to late to plan your future.

2. Gagallah sedini mungkin, sesegera mungkin (Dahlan Iskan) 
Mungkin quote yang sama tidak harus melulu dalam pembahasan dunia pengusaha, ya, saya belum jadi pengusaha saat ini, belum.  Keputusan anda sesaat setelah lulus kuliah  sangat menentukan, (a) apakah bekerja di perusahaan A, nyaman dan lanjut untuk waktu yang lama, atau (b) berakit rakit di perusahaan B C D A, atau (c) justru sedang membangun usaha anda yang keren dari keringat sendiri. Saya mungkin golongan (b) yang dari perusahaan A ke perusahaan B lalu C ..C bankrut lalu ke D. Saat semua sulit kawan, mari sama - sama percaya bahwa semua ada hikmahnya.

3. Perbanyak baca buku 
Selagi mata masih menunjang untuk melahap banyak buku, why not? membaca buku tidak harus nerd, pakai kacamata tebal dan suka menyendiri bukan? hingga saat ini saya masih mengikuti cara dosen saya Pak Khoiri, dimana setiap bulan ada buku yang di beli, walau dari bazaar diskonan atau lapak buku bekas sekalipun. Buku apapun yang kita baca pasti ada manfaatnya.

Setelah membaca bab awal buku "Rudy - Biografi BJ Habibie" saya menjadi sedikit iri karena beliau telah dijejali buku bagus sejak kecil oleh sang ayah. Tapi untungnya Ibu saya (dan bantuan sahabat saya bernama "Zagalo") berhasil mengarahkan saya untuk cinta perpustakaan sejak SMP. Sehingga buku menjadi hal yang selalu menarik di mata.

4. 1 lawan terlalu banyak, 1000 kawan belum cukup
Salah satu keuntungan perantau adalah kawannya dari mana saja, dan itu yang saya rasakan saat ini. Saat jauh dari keluarga, kawan mendadak jadi kakak, atasan mendadak jadi Ayah/Ibu, dan seterusnya. Senang di kantor saya ada tim futsal yang kami bentuk bersama, setiap kamis ada sarana untuk sejenak melepas penat dengan rekan sejawat.

Namun tetap, kampung halaman dan saudara sepermainan waktu kecil selalu yang terbaik. Pada tahun ini saya kehilangan sahabat, kakak terbaik, teman main sejak kecil, dan tentu, dia berhasil memberikan kenangan terbaik pada setiap orang yang mengenalnya. Semoga putrimu yang baru lahir ini menjadi putri yang dapat engkau banggakan mas Yog! we all miss u.

5. Rekreasi tak harus piknik, travelling tak harus diving 
Meluangkan waktu untuk mengukir suatu kenangan yang tak terlupa, once in a life, adalah salah satu solusi menemukan kebahagiaan. Saya suka bepergian, cek-in di tempat yang belum saya kunjungi sebelumnya, menikmati duduk diam lama di dalam bis.

Satu hal yang ingin saya garis bawahi di sini, jangan habiskan uang anda untuk hal - hal tersebut tanpa memikirkan masa depan. Karena kesenangan tidak hanya untuk hari itu , saat itu, piknik boleh, travelling boleh, naik gunung sampai langit lapis ke tujuh boleh, tapi tetap pikirkan porsi hidup yang seimbang agar tidak menyesal di depan. Sst. kadang kesenangan itu muncul saat anda tertawa bersama kawan kantor, merasakan atmosfer El Classico dengan rekan sekamar (cc Okky Ardianto) atau mengelus - elus perut istri yang lagi buncit seharian, sederhana bukan?

5 dulu kawan, terima kasih sudah berkenan membaca, hidup ini indah kawan, it is just the past of finding who we are!

Terima kasih Allah atas 25 tahun ini, karuniakan kami umur yang panjang, kesehatan, kenikmatan iman dan Islam. Terima kasih telah menjaga orang tua kami saat kami jauh. Terima kasih telah mengkaruniakan Istri yang luar biasa.


Selamat hari minggu dan jangan lupa senyumnya ya


author
Gostaff
Penikmat kopi arabica yang suka rak buku dan seisinya