Jamanku TK

Saya masih ingat persis, hanya 2 hari saya tahan di TK Dharma Wanita Nglongsor, Tugu. Sebagai anak yang polos, tahunya mainan, TK itu membosankan hanya ada 3 mainan (saat itu), yakni prosotan, jungkat - jungkit dan brakiasi besi. Saya bilang ke Bapak, "TK kok ra ono dolanane". Lalu Bapak antar saya ke kota (Trenggalek) ke TK Persit Kartika Chandra Kirana, dimana (alm) Dyah, sobat kecil saya, sekolah di sana. Ya, saya mau TK ini. Jadilah saya anak desa (Nglongsor) tapi TK di Kota (6 km dari rumah). 

Bukan hal yang aneh bagi saya karena dari kecil memang tidak banyak punya teman di dekat rumah, sehingga saat bertemu teman - teman di TK, rasanya ya biasa saja. Tidak ada rasa kehilangan teman di dekat rumah, atau asing dengan dunia anak - anak di "kota". 

Belum seminggu saya di TK itu ingat betul bu Guru bertanya, siapa yang mau jadi pemimpin upacara? "SAYA", polos dan tegas. Jadi, kalau yang baca ini teman saya dari jaman sekolah, jangan heran mengapa saya selalu jadi petugas upacara dari SD, SMP sampai kelas 3 SMA, bibitnya dari TK Kecil sudah ada. 

Saat upacara itu Bapak saya balik kanan, nggak tega kalau - kalau anaknya salah, ternyata mulus - mulus saja kata Bapak. Saat TK, memang Bapak yang antar, nunggu, dan pulang dengan saya. Pekerjaan Bapak yang buka bengkel di depan rumah membuat waktunya lebih fleksibel. 

Sekolah di kota artinya berteman dengan anak kota, itu hikmah yang sampai hari ini masih saya rasakan, di mana teman TK saya kemudian banyak jadi teman SMP - SMA, sehingga sampai sekarang beberapa diantaranya masih kenal baik. Pengaruh yang mereka berikan membuat banyak wawasan baru terbuka. 

Saya mendaftarkan Anca ke TK Ilyasa, Pondok Rajeg Minggu lalu, dan seketika saya DM Krisna, teman TK saya, lalu WA ke Krita, DM ke Putri, dan sempat salah DM ke Ratih dan ke Tyas, karena ternyata bukan "Ratih dan Tyas" yang itu yang satu TK dengan saya. Rasanya sejenak ingin ke jaman itu, indah sekali, sepatu saya nggak bermerk teman saya nggak komplain, baju seragam nggak slim fit saya juga pede-pede saja. Hari - hari isinya main, main dan main. 

Saya ingat kalau Sabtu acaranya jalan- jalan keliling muter gedung Teater, bawa bekal bubur kacang ijo. temen laki - lakinya seru - seru. si Adit dan Galung yang larinya paling kencang, si Kresna dan Jerry yang paling kece, si Dian yang selalu saya sapa di depan rumahnya tiap pulang. si Anggara dan Brisen yang seperti adik - kakak, Yaniza aka Yim Yim yang jeniusnya udah dari TK. 


1. Krita
2. Dian
3. Iin
4. Galung
5. Adit
6. Jery
7. Putri
8. Yimyim
9. Kresna
10. Rio
11. Tyas

12. Ratih
13. Dyah (Alm)
14. Lintang
15. Gustaf
16. Catur
17. Nesti
18. Anggara
19. Arwinda
20. Piska
21. Brisen
22. Krisna

Disclaimer : Saya hanya nemu dan inget sampai 22 orang, selebihnya sudah mentok, lupa ada berapa total teman TK dan siapa saja, bagi yang ternyata teman TK ku dan belum masuk silahkan protes ya (HAHA). 

Beberapa IG aktif teman TK : 













Beberapa dokumentasi jaman TK :


Liburan di Pagora (dok : Kresna)

Karnaval TK B dengan Fetreo

Sebelum TK ikut Karnaval 



Karnaval TK A


Seragam Olahraga TK


Foto di Pagora saya tidak ada, kata Kresna saya kebanyakan polah kalau difoto. Fetreo masih satu SMP dan SMA, namun sudah tidak kontak karena memang beda satu angkatan. Sedangkan Dyah (yang di foto karnaval) meninggal saat masuk SMA, karena menderita kanker. Dimakamkan di Pekamaman Umum Cengkong, keluarganya dan Ibu saya sudah seprti saudara sendiri, adiknya baru saja menikah, saya menyaksikan live di IGnya. 

TK kami sudah banyak saingan sekarang, dahulu saingannya hanya TK Pertiwi dan TK Bayangkari. Fitur utama TK kami adalah tidak menerima Tukang jajan. Terjamin siswanya. Sekarang yang menjadi primadoa adalah TK - TK Islam. Saya masih ingat beberapa Guru TK kami, Kepala Sekolah rumahnya Sumber Gedong dekat tempat Tamiya dulu. Guru favorit saya Bu Wiwik, sampai saya besar masih beberapa kali bertemu, kebetulan rumahnya dekat rumah Eyang saya di Surodakan. 

Lokasi TK kami : 




Bagaimana kenangan TK man teman?

Sabang, 2017

Saya rasa yang satu ini perlu saya dokumentasikan lebih proper, sayang video - videonya hanya nyangkut di instagram stories dan sudah hilang ditelan waktu. Di tahun 2017 ada acara kantor di Aceh Besar, menjelang satu hari terakhir (jumat tengah malam), kami akan kembali ke Jakarta Minggu pagi, ide nakal muncul dari Uda Adib. Kebetulan kami tidak tinggal di hotel, melainkan di asrama pondok sekolah.

Sebetulnya ada jadwal untuk keliling beberapa spot wisata di Aceh pada hari Sabtunya, sebagai fieldtrip kepada peserta. Museum Tsunami, beberapa pantai di Aceh, serta Masjid Baitturahman Banda Aceh. Kami? sebagai panitia sudah incip duluan dari pada Pesertanya dong. So,

"Gustaf, ke Sabang yuk?" Jam 2 malam dia nyeletuk
"Wah, asik da, caranya gimana?" saya scroll Safari.
"ke Pelabuhan lah, nyebrang sehari, sore balik, gimana?"
Aman nih pikir saya, toh, ya, ke Aceh kalau tidak menginjakkan kaki di Sabang itu seperti kalian masuk Dufan tapi hanya duduk - duduk bawah pohon tepi wahana tanpa incip.

"Oke gini, kalau dapat pinjaman motor dari panitia (lokal), kita cus, kalau tidak, jangan maksa"
"deal" Uda sumringah.

Singkat cerita kami dapat pinjaman Honda Scoopy nya Raja, Helm satu lagi kami pinjam Fatahillah.
Bada Subuh kami berangkat ke Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Dapat tiket untuk Kapal Cepat jam 08.00 Pagi.

Tiket Kapal Cepat Banda Aceh - Sabang


Sekitar jam 10.00 WIB sampai kami di Pelabuhan Balohan, Sabang. ke kota sekitar 30 menitan jaraknya, di luar pelabuhan sudah ada orang yang menawarkan rental motor, 100 ribu sehari. "Kalau mau balik hari ini juga, jam 3 kalian sudah sampai sini lagi ya, karena kapal terakhir jam 4" kata Abang rental.

Kami langsung tancap gas ke nol kilometer Indonesia yang tenar itu. Maps! Cling! Foto-foto, balik


di tengah perjalanan ke titik nol km. 5 langkah dari aspal pantainya

Halo Indian Ocean


we did it

Jam 3 kami sampai di Pelabuhan lagi, sepi sekali.

Di counter informasi kami mendapat jawaban;
"Terakhir jam 2 tadi, ke Banda Aceh besok pagi saja, yang jam 4 tidak jalan karena gelombang tinggi"

Hah? ini diluar plan kami,
1) Besok jam 11 harus sudah di Bandara
2) Motor dan helm pinjaman orang di parkiran Pelabuhan Ulee Lheue
3) Baju cuma yang di badan

Uda Adib memang religius, alih -alih panik, motor di arahkan ke Masjid Sabang.
Semalam kami di penginapan sebrang Masjid Sabang. Jalanan Sabang juga udah khatam kami intari 2-3x kali saking bingung mau ngapain lagi.

Bada Magrib, kami nunggu isya lalu ke penginapan di depan Masjid 

Esok paginya kami kembali ke Banda Aceh, teman-teman kami sudah siap di mobil ke Bandara, kami baru packing.
Ya Salam